Cara cek sertifikat SSL website kita

Mulai populernya penggunaan HTTPS pada website tampaknya dimotivasi oleh pengumuman Google akan diperhitungkannya hal ini dalam peringkat hasil pencarian dan injeksi iklan yang dilakukan oleh ISP (Telkom Speedy, Telkomsel, dan sebagainya). Tapi tidak semua sertifikat SSL diciptakan setara, dan belum lagi proses konfigurasinya bisa membuat situs anda tidak kompatibel dengan browser – terutama untuk perangkat mobile yang ada beberapa yang tidak mendukung fitur SNI (Server Name Indication) yang membuat website anda akan muncul error SSL. Minimal tampilan website anda akan rusak dan tidak bisa berfungsi secara normal.

Sebelum anda mengalihkan seluruh traffic pengunjung secara permanen dari HTTP menjadi HTTPS sangat disarankan untuk menguji implementasinya melalui tool SSL Server Test dari Qualys SSL Labs. Anda tinggal memasukkan apa nama domain dari situs anda dan klik Submit.
ssl-labs-ssl-server-test
Proses scan sertifikat SSL yang telah terpasang akan dimulai dan ini akan memakan waktu beberapa menit dari percobaan saya. Disini saya menguji sertifikat SSL gratis dari CloudFlare. Hasilnya sebenarnya sederhana, akan muncul grade dari konfigurasi SSL pada server hosting anda dan tentunya semakin tinggi semakin baik. Untuk sertifikat SSL gratis dari CloudFlare dijamin A hasilnya.
ssl-labs-ssl-report
Untuk melihat detail dari proses pengujiannya maka klik saja alamat IP dari server hosting website anda. Akan muncul grafik batang yang akan menginformasikan pada bagian mana saja setting SSL anda sudah tepat atau kurang.
ssl-labs-ssl-report-summary
Disini saya ingin menginformasikan perhatikanlah pada bagian Handshake Simulation (geser halamannya kebawah), karena dari sini kita bisa melihat pada browser atau perangkat apa ada kemungkinan website kita tidak bisa dibuka secara normal.
ssl-labs-ssl-report-handshake-simulation

Kalau anda tidak menggunakan IP dedicated untuk website anda bisa dikatakan akan bermasalah pada browser versi lama atau handphone dan gadget yang tidak bisa diupdate softwarenya. Dan kalau di Indonesia ini bisa bermasalah karena masih banyaknya yang menggunakan barang jadul, walau bukan mayoritas.

Semoga bermanfaat. 🙂

Tulis komentar...