Utang itu tes karakter asli manusia

Last Updated on Februari 8, 2021

Alkisah ada teman atau kenalan yang butuh bantuan kita secara materi, bisa karena musibah atau ingin beli barang yang dibutuhkan. Apapun alasannya tidak masalah asal kita memang ada uang berlebih, dan ikhlas tentunya. Tinggal kita menilai bagaimana track record orangnya saya. Selama ini dikenal baik dan setia kawan? Belum tentu karakter aslinya begitu.

Pasti semua pernah meminjam uang atau sebaliknya memberi utang ke saudara, teman, kenalan dan sebagainya. Mungkin ada yang sudah kapok atau kecanduan karena jadi oasis di tengah padang gurun, apalagi kalau yang diutangi sungkanan. Kalau ingin tahu sifat aslinya kawan kita seperti apa, layak disebut sahabat, atau cuma teledor dalam masalah keuangan maka solusinya satu: beri pinjaman saat butuh.

Image by Nattanan Kanchanaprat from Pixabay

Nanti tahu sisi tersembunyinya dari bagaimana saat ditagih utangnya. Kalau pas deadline ditunda, lihat saja alasannya dan sikapnya. Apalagi kalau sudah mulai mengeluarkan jurus “guilt trip” dimana kita yang disalahkan kok ga ngertiin kondisinya yang sedang susah. Padahal kalau itikad baik, ga perlu dilunasi semua, dicicil pun kita sudah positif orangnya memiliki komitmen tapi ada halangan. Kita ini manusia, bukan monster. Ada kesulitan asalkan yang ngutang serius ingin melunasi masih bisa dimaklumi.

Apalagi pas cek Instagramnya lagi pamer beli gadget baru atau malah liburan, miris lihatnya ga nyadar ada tanggungan tapi kok mampu nambah barang tersier. Omongan ga sesuai kenyataan dong. Pas disindir halus malah ngamuk dengan berbagai macam alasan. Kalah galak kita dengan yang ditagih. Malah kita yang dikatakan kok segitunya nagih, baru seneng sedikit aja. Dikatain bohong/tidak tepat janji sudah jelas, tapi ga bisa straight juga nuduhnya. Hubungan antar manusia itu memang rumit.

Bisa ditebak, hubungan yang awalnya biasa-biasa saja nantinya akan seperti tom and jerry. Kejar-kejaran, dichat tidak dibaca atau bahkan dibalas. Akhirnya merasa jadi pengemis meminta-minta uang yang memang seharusnya hak kita.

Padahal ngutangi orang kadang bukan karena kita punya uang berlebih, tapi karena ada yang lebih butuh. Pas tanggal janji mengembalikan dan diperlukan dananya malah ga dibalikin.

Ga usah sakit hati, ambil sisi positifnya. Anggap saja ini fee dini untuk tahu bagaimana nanti kalau ada urusan dengan uang kedepannya. Bisa dalam kerjasama usaha atau patungan beli apapun. Lha uang kecil saja sudah makan hati, apalagi urusan duit besar.

Sejak beberapa kali mengalami secara pribadi sulitnya mendapatkan uang kembali baik dari yang dekat atau biasa saja hubungannya, saya memberikan batas maksimal nominalnya. Hanya 100 ribu rupiah saja, uang kecil dan kalau sesuai janji mengembalikannya tidak bertele-tele. Masih oke tampaknya, tapi bukan berarti aman.

Alhasil, yang bisa dikatakan teman dari tahun ke tahun akan terfilter dengan sendirinya. Secara pribadi menyadari waktu melihat kontak di WhatsApp melihat siapa saja yang rutin ngobrol.

Pesan moralnya: Ambil pelajarannya dan warning teman saja kalau tahu akan dimintai bantuan. Kita sudah tahu behind the scenenya, saat dibebani tanggung jawab inilah kita tahu bagaimana karakter aslinya.

Tinggalkan komentar