Kenapa daftar layanan itu mudah tapi berhentinya susah?

Advertisements

Ada fenomena yang kurang baik kalau diperhatikan sekarang, dengan banyaknya layanan online yang bisa dengan mudah digunakan atau dikonsumsi, tapi sebaliknya saat ingin berhenti malah caranya berbelit atau malah tidak ada.

Hal ini beberapa kali saya rasakan untuk berbagai macam layanan online dan aplikasinya. Baru saya perhatikan setelah beberapa kali mencari pengaturan untuk berhenti langganan atau hapus akun. Sampai nyisir gooogle karena dobel cek bisa tidaknya.

Contoh kasus pertama: Asuransi

Pasti pernah begitu buka tabungan atau apply kartu kredit, tidak lama kemudian akan rutin ditelepon telemarketing asuransi dari rekanan banknya. Seperti Cigna dengan BRI atau BCA, AXA dengan Mandiri, Sunlife dengan CIMB Niaga dan seterusnya.

Itu kalau kita ingin jadi nasabah asuransinya cukup dengan telepon dan mengiyakan saja. Simple kan?

Bagaimana kalau ingin berhenti? Tidak semudah itu, ditelepon ke call center asuransi perlu dokumen. Padahal yang nelpon sudah siap seluruh data nasabahnya. Alhasil kadang solusinya perlu email yang prosesnya bisa makan seminggu lewat sampai kelar, datang sendiri ke kantor asuransi atau bank untuk komplain, atau solusi paling ekstrim ya tutup rekeningnya.

Saya pernah ada pengalaman serupa dengan Cigna.

Advertisements

Contoh kasus kedua: Bank Digital.

Kali ini spesifik bank digital karena basisnya online tanpa kantor fisik. Contohnya ya Jenius yang barusan saya cancel akunnya, buka tabungannya itu mudah bisa online lewat aplikasi atau alternatif ke boothnya di mall.

Tapi walaupun katanya ini bank digital, soal penutupan akunnya masih jaman dinosaurus juga. Tidak ada di setting aplikasinya, lewat email pun tidak. Harus dilakukan lewat telepon.

Contoh kasus ketiga: eCommerce

AkuLaku cukup mewakili di sektor eCommerce dan metode pembayaran. Sama dengan yang lain, untuk bikin akun ya cukup lewat aplikasinya. Tapi lain cerita ingin membatalkan penggunaannya, tidak ada opsi di aplikasi untuk itu.

Balik lagi kontak csnya lewat email atau telepon untuk proses penutupan akun AkuLaku.

Contoh kasus keempat: Kesehatan

Nah… ini rada jengkel juga dengan aplikasi Alodokter. Kita isi data pribadi lengkap dan akurat dengan harapan konsultasi dokter lebih tepat sasaran. Yang terjadi malah penggunanya kena teror untuk menambahkan nomor kartu debit, biar bisa ditagih langganannya.

Sekali langganan aktif, berhentinya harus kontak customer service. Belum lagi kalau ingin hapus akunnya saja, jawabannya adalah tidak bisa.

Advertisements

Contoh kasus kelima: Finansial

Ajaib, aplikasi finansial satu ini mengedepankan kemudahan pemakaian dan semuanya serba online. Jadi soal bikin akun, verifikasi data nasabah, jual beli saham dan jenis investasi lainnya cukup dari hp.

Kecuali soal penutupan akun Ajaib, harus email ke cs dan inipun cuma nonaktifkan sementara saja bukan penghapusan permanen.

Kok gitu sih?

Tampaknya aplikasi-aplikasi seperti menerapkan gampang masuknya susah keluarnya. Mungkin dengan harapan agar pengguna tetap ada akunnya walau tidak aktif digunakan. Dan diatas hanyalah contoh-contohnya saja, kompetitornya tidak jauh beda.

Keinginan saya, dan mungkin yang lain itu sebenarnya sederhana. Daftarnya bisa online dalam aplikasi, sudah sepatutnya untuk berhenti juga bisa metode yang sama bukan dioper-oper. Apalagi parahnya bisa tidak ada caranya.

Inspirasi tulisan ini karena kebetulan membaca peraturan baru di California per 1 Juli 2021 bahwa pelanggan yang menerima layanannya online maka harus disediakan jalur pembatalannya online juga. Bukan daftarnya A keluarnya di Z.

Ada yang mengalami hal serupa?

Advertisements

Tinggalkan komentar