Langganan koran belum tentu maksimal manfaatnya

Advertisements

Kolom opini saja kali ini. Dulu, saya pernah langganan koran Kompas dengan harga diskon Rp. 30.000 per bulan karena ada apresiasi tenaga edukasi. Tapi akhirnya harus berhenti juga karena terus terang pada fase waktu itu untuk makan sehari-hari saja sulit.

Dan saya teringat sejak bisa internetan setiap hari 24 jam tanpa putus sangat jarang baca-baca berita. Ada TV tapi biasa, dikuasai kaum wanita. Baca di internet, baik lewat laptop atau hp juga kurang sreg. Terlalu banyak clickbaitnya dan terlalu sensasional tapi isinya kurang.

koran surya 16 12 2020

Akhirnya saya berniat untuk langganan koran lagi. Dengan modal google kata kunci “langganan koran malang” dan cek facebook saya langsung bisa tanya via WhatsApp prosedurnya. Ya jaman sekarang semuanya bisa online jadi mudah sekali. Sebelumnya saya sudah cek bahwa kios majalah/koran dekat rumah sudah tidak ada lagi, juga enggan repot ke perempatan lampu merah cari penjajanya.

Advertisements

Kriteria sebelum menentukan koran mana yang saya butuhkan informasinya adalah regional, karena satu Indonesia jelas mudah dicari tapi kondisi wilayah sekitar akan lebih membantu. Akhirnya milih Harian Surya Jawa Timur, ya karena murah juga cuma Rp. 55.000 sebulan. Dan kontak admin langganannya juga cepat ditanggapi, cuma butuh alamat pelanggan dan atas namanya. Besok atau lusa akan diproses agennya, dan diantarkan kurir ke rumah.

Begitu koran tiba, dengan antusias saya membacanya. Memang berbeda dengan berita online, tidak banyak judul menyesatkan dan lebih langsung ke inti beritanya. Dan kolom gosip walau ada tapi tidak fantastis juga. Tapi yang lebih bermanfaat tentunya berita dari kota-kota di jatim.

Tapi seiring berjalannya waktu, secara sadar atau tidak sadar ternyata koran rapi bertumpuk di sudut ruang tamu. Di rumah yang baca koran cuma saya. Ibu, kakak, keponakan tidak ada yang berminat. Pun saya sendiri lama-kelamaan lupa juga, setiap pulang kerja lebih nyaman bersandar di kasur sambil buka hp cari berita terbaru. Sumber utamanya media sosial dan halaman utama browser Chrome.

Advertisements

Ya, mungkin ini bukan masanya tulisan kertas lagi. Generasi saya dulu tiap pagi sebelum sekolah bela-belain baca koran, atau majalah. Sekarang, informasi terkini bisa didapatkan lewat internet dan gratis (oke, kuota internetnya bayar sih..). Rasanya untuk mengambil koran, membuka dan membacanya jadi berat.

Akhirnya setelah 5 bulan saya memutuskan berhenti berlangganan saja. Daripada saya mengeluarkan uang tapi tidak bisa dimaksimalkan manfaatnya untuk serumah, lebih baik dibuat beli beras.

Agak merenung juga, saya yang dibesarkan tanpa smartphone saja sudah tidak ingin membaca koran. Apalagi generasi selanjutnya yang sudh ditemani handphone, smart tv dan komputer untuk sehari-harinya. Mungkin seperti radio digantikan televisi, semua ada jamannya.

Advertisements

Tinggalkan komentar